Latar Belakang

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 44, ayat (1), mengamanatkan bahwa: “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Masyarakat Langsung”. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 mengamanatkan bahwa Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) harus memiliki kompetensi, kualifikasi, dan profesionalisme yang terstandar. Konsekuensi logis dari amanat tersebut adalah perlunya upaya pemerintah, dalam hal ini Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan pembinaan, pengembangan, dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan.

Berdasarkan The Global Competitiveness Report 2010-2011 © 2010 World Economic Forum, dan Laporan UNDP-Human Development Report 2009, dari 139 negara, posisi Indonesia dalam pengembangan pendidikan dan pengembangan sumberdaya manusia menempati ranking 55 untuk kualitas pendidikan dasar, ranking 40 untuk kualitas sistem pendidikan, ranking 55 untuk kualitas manajemen sekolah, ranking 46 untuk kualitas pendidikan matematika dan sains, ranking 50 untuk akses internet di sekolah. Sedangkan dari segi pembangunan manusia, Indonesia menempati ranking 124 dari 187 negara. Peringkat itu turun dibanding tahun sebelumnya di 108 dari 169 negara. Menyedihkan, tetapi sekaligus menegaskan betapa buruk kualitas tenaga kerja di Indonesia.  Hanya mutu SDM kompetitif yang dapat menghasilkan kesejahteraan lebih baik. (Media Indonesia, Jumat, 11 November 2011).

Oleh karena itu, PPPPTK Bisnis dan Pariwisata sebagai unit pelaksana teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sesuai dengan tugas dan fungsi yang diemban perlu mngembangkan berbagai model peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan yang mampu memberikan ungkitan (leverage) yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan, sehingga ketertinggalan dengan Negara lain khususnya Negara-negara Asean seperti Singapore, Malaysia, Brunai Darussalam dapat didekatkan, diperkecil atau bahkan melebihi yang mereka capai saat ini.

Berdasarkan berbagai kajian, kesenjangan atau gap yang dirasakan selama ini paling tidak terletak pada tiga persoalan utama. Pertama, belum meratanya penyebaran sumber belajar (pusat-pusat pendidikan dan pelatihan) di setiap Provinsi yang memungkinkan banyak orang memiliki akses langsung untuk mengembangkan potensi dirinya. Kedua, persepsi masyarakat Indonesia tentang kemakmuran baru terbatas pada ketercukupan sumber daya alam yang memungkinkan terpenuhinya kebutuhan ekonomi masyarakat. Para birokrat dan politisi kita belum sepenuhnya menyadari bahwa pembangunan di bidang pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Itu sebabnya alokasi dana untuk pengembangan sektor pendidikan belum menggembirakan, walaupun Undang-Undang menetapkan 20% dari dana pembangunan harus dialokasikan untuk sektor pendidikan. Ketiga, belum adanya kemauan politik yang kuat dari pemerintah untuk benar-benar menjadikan pendidikan sebagai sumber devisa bagi negara, padahal Australia, Singapura, dan Korea Selatan telah membuktikan bahwa sektor pendidikan dapat menjadi penghasil devisa yang besar. Jika ketiga kesenjangan ini dapat diterima sebagai kondisi faktual yang mempengaruhi kualitas pengembangan manusia Indonesia maka upaya untuk menghadirkan program-program fasilitasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan yang sinergis antara pusat dan daerah merupakan suatu keniscayaan yang harus dikembangkan.

Untuk mencapai hal diatas, pemerintah pusat telah mengubah beberapa paradigma penyelenggaraan pendidikan. Perubahan tersebut antara lain, dari “power” menjadi “service”. Pusat lebih bersifat sebagai orang yang karena posisinya harus berupaya untuk memberikan pelayanan (service) yang dibutuhkan oleh sasaran manajemennya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: